Salah satu elemen utama dalam sebuah proses pembelajaran khususnya pembelajaran daring adalah interaksi. Seringkali kita mengikuti sebuah pembelajaran yang kurang interaktif sehingga proses belajar menjadi tidak maksimal, lebih jauh tidak tercapainya tujuan pembelajaran. Berbagai kondisi di atas bisa saja disebabkan oleh faktor interaksi yang kurang terjalin, baik antara guru dengan siswa, siswa dengan siswa atau siswa dengan lingkungan belajarnya. Hal ini bisa saja disebabkan oleh banyak faktor, seperti kesalahan dalam memilih media belajar, sumber belajar, model pembelajaran, atau instruksi yang kurang dimengerti siswa.

Lalu bagaimana meningkatkan interaksi dalam pembelajaran moda daring?

Richard Caladine dalam bukunya yang berjudul Enhancing E-Learning with Media-Rich Content and Interactions menjelaskan sebuah framework yang dapat kita jadikan acuan dalam memilih dan menentukan aktivitas serta teknologi pembelajaran yang tepat untuk meningkatkan interaksi dalam pembelajaran serta media yang kaya akan konten. Framework tersebut adalah Techonology Selecting Method yang memberikan sebuah arah pertimbangan bagi seorang guru atau instructional designer dalam menentukan model aktivitas dan teknologi pembelajaran yang kaya materi dan dapat meningkatkan interaksi pembelajaran.

Namun sebelum membahas mengenai Framework Technology Selecting Method (TSM) ini, kita perlu memahami dua buah theorical frameworks Caladine, yaitu: 1) Learning Activities Models (LAM) / model aktivitas pembelajaran; dan 2) Learning Technologies Model (LTM) / model teknologi pembelajaran.

1. LAM / Model Aktivitas Pembelajaran

LAM atau model aktivitas pembelajaran ini terdiri dari lima aktivitas pembelajaran yang terbagi ke dalam dua kategori, yaitu:

a.   Representasional, atau interkasi dengan media, yaitu:

1)    Provosion of Materials (PM), dimana penyaji (guru / instruktur) menyediakan materi dalam berbagai bentuk kepada pembelajar. Dimana yang dimaksud dengan material disini adalah seperti pengetahuan, informasi dan data. Dalam konteks pembelajaran daring, PM bisa disajikan dalam bentuk text / e-books, audio / podcast, tayangan video, multimedia, broadcast dan web-pages.

2)   Interaction with Materials (IM),dimana pembelajar berinteraksi dengan memperlajari materi yang disajikan atau dari berbagai sumber. IM terjadi ketika pembelajar mencari definisi dari buku sumber, mencatat hal-hal penting, melakukan pause-rewind atau replay video atau audio pembelajaran, melakukan searching di internet atau bisa juga berinteraksi dengan peralatan berbasis computer atau multimedia.

b.   Dialogical, yang bersifat resiprokal antar manusia

1) Interaction with Facilitator (IF),ketika pembelajar berinteraksi dengan fasilitator/guru/ instrukturnya. Interaksi terjadi ketika guru menyajikan materi, melakukan demonstrasi, melakukan umpan balik dan penguatan, sedangkan pembelajar dapat melakukan bertanya, melakukan bimbingan atau tutorial discussion, konsultasi dan sebagainya. Dalam konteks elearning, IF ini dapat terjadi melalui media chatting, mailing, sambungan telefone, teleconference, web-conference, ataupun disscussion forum.

2)  Interaction between Learners (IL),ketika pembelajar berinteraksi dengan pembelajar yang lain baik secara formal maupun informal. Interaksi secara formal terjadi ketika pembelajar melakukan presentasi atau pemaparan tugas atau makalah kepada pembelajar yang lain. Interaksi informal terjadi ketika pebelajar berdiskusi dengan pebelajar yang lain dimanapun dan kapanpun selama hal itu berkaitan dengan materi yang dipelajari. IL ini bisa terjadi melalui media chatting, mailing, sambungan telepon, teleconference, forum group discussion dan sebagainya.

3)  Intra-Action (IA),ketika pembelajar berinteraksi secara dialogical dengan dirinya sendiri. Dimana pebelajar berinteraksi dengan pemahamannya sendiri mengenai materi yang dipelajari. Aktivitas IA terjadi ketika pebelajar merefleksikan apa yang dilihat dan didengar, kegiatan berfikir kritis, menyempurnakan ide, pendapat dan sikap ataupun membandingkan pengetahuan yang baru dengan pengetahuan yang ada. Caladine mengkategorikan IA ini sebagai aktivitas yang dialogical, walupun interaksi adalah interaksi pebelajar dengan dirinya sendiri. Caladine sendiri menyebutkan bahwa aktivitas IA ini sulit diukur karena terjadi di dalam diri pembelajar sehingga hanya pembelajar sendiri yang tahu.

Gambar 1.  Bagan Learning Activities Model (LAM)

(diadopsi dari Caladine, 2008: 84)

Caladine menyarankan agar kelima aktivitas pembelajaran ini terjadi, walaupun dalam beberapa e-learning hanya sebagian aktivitas saja yang terfasilitasi.

2. LTM / Model Teknologi Pembelajaran

LTM atau model teknologi pembelajaran dibagi menjadi dua kategori, yaitu :

a. Representasional, yang bersifat satu arah :

1) Level 1, bersifat textual and still image.

Contohnya berupa e-book, GIF, infograprics, dan sebagainya.

2) Level 2, bersifat voices and audio-only

Contohnya berupa audio recorder, podcast, siaran radio dan sebagainya

3) Level 3, bersifat voices and moving image

Contohnya berupa video, animasi, multimedia dan sebagainya

b.Kolaboratif, yang bersifat dua arah :

1) Level 1, bersifat collaborative text only

Contohnya berupa chat, e-mail, SMS, forum diskusi dan sebagainya.

2) Level 2, bersifat collaborative voices and audio only

Contohnya berupa sambungan telefon, audio-conference dan sebagainya

3) Level 3, bersifat voices and non-verbal attributes

Contohnya berupa video-conference, web-conference dan sebagainya.

Gambar 2.  Bagan Learning Technologies Model (LTM)

(diadopsi dari Caladine, 2008: 107)

Setelah kita memahami berbagai aktivitas dan teknologi pembelajaran menurut Caladine berupa LAM dan LTM, selanjutnya kita dapat menentukan kombinasi yang tepat antara aktivitas dan teknologi pembelajaran yang mana saja yang akan kita gunakan dalam proses pembelajaran agar menjadi pembelajaran yang interaktif melalui frameworks Caladine yang ketiga yaitu Technologies Selecting Method (TSM).

Terdapat tiga kriteria pemilihan aktivitas dan teknologi pembelajaran yang tepat dalam frameworks TSM dari Caladine ini, diantaranya:

1. The Mechanics of The Subjects, atau karakteristik pelajaran.

Kriteria pemilihan ini mengacu kepada atribut yang diperlukan untuk konten dan interaksi yang efektif dan efisien. Proses pemilihan ini dapat dibantu dengan pertanyaan : Apakah teknologi X pada LTM dibutuhkan dalam aktivitas Y pada LAM ?

2. Learners and Facilitators Implication,atau kesiapan pembelajar dan fasilitator atau guru

Kriteria ini mengacu kepada akses pebelajar dan fasilitator serta keteramppilan penggunanya. Penentuan kriteria ini dapat dibantu dengan pertanyaan seperti: Keterampilan apa yang perlu dikuasai?

3.    Cost / Affordability,

Kriteria ini mengacu kepada pertimbangan nilai produksi. Kriteria cost ini dapat dibantu dengan pertimbangan apakah penggunaan teknologi dan aktivitas tertentu dapat meningkatkan efektifitas dan efisiensi, kemudian pertanyaan apakah organisasi siap dan mampu untuk menyediakan berbagai kebutuhan yang timbul aktibat penyelenggaraan aktivitas dan teknologi pembelajaran yang akan digunakan.

Selain ketiga kriteria pertimbangan pemilihan aktivitas dan teknologi pembelajaran dari Caladine di atas, terdapat kriteria lain, yaitu Technology Availability. Kriteria ini mengacu kepada apakah sebuah organisasi atau instansi pendidikan memiliki teknologi yang mumpuni atau sudah siap dalam menyelenggarakan berbagai aktivitas dan teknologi pembelajaran yang diinginkan

Gambar 3.  Bagan Technologies Selecting Method (TSM)

(diadopsi dari Caladine, 2008: 138)

Jadi Technologies Selecting Methods atau TSM ini menjadi dasar ketika menentukan jenis kegiatan dalam Learning Activities Model atau LAM, kemudian menjadi dasar juga dalam menentukan model teknologi dalam Learning Technologies Model atau LTM yang cocok untuk setiap aktivitas pembelajaran.

Jika kita analogikan sebagai King dan Queen, LAM dianalogikan sebagai King yang akan menentukan aktivitas untuk menciptakan interaksi dalam pembelajaran. King akan dibantu oleh LTM yang dianalogikan sebagai Queen dalam menciptakan interaksi pembelajaran eLearning ini. King akan menentukan Queen mana yang cocok berdasarkan pertimbangan dari TSM atau metide penentuan teknologi.

Bagikan:

Tinggalkan Balasan