Hati-hati Ancaman Kejahatan Siber Terhadap Anak-anak Di Masa Pandemi Covid-19






Berita Nasional (26)
Buku (13)
Info Pendidikan Nasional (131)
Info Pendidikan PAUD (17)
Info Pendidikan SD/MI (38)
Info Pendidikan SMA (8)
Info Pendidikan SMP (61)
Modul (36)
Perpustakaan (7)
Source Code (7)
Template (4)
Undang-undang RI (1)





















• 15 Januari 2010
Workshop Kolaborasi PHP dan jQuery

• 29 Oktober 2009
Workshop VBA Programming for Excel

• 29 Oktober 2009
Bedah Buku "Membongkar Trik Rahasia Master PHP"

• 14 Maret 2009
Seminar "Membangun Portal Berita ala Detik.com"


Beranda » Berita Nasional » Hati-hati Ancaman Kejahatan Siber Terhadap Anak-anak Di Masa Pandemi Covid-19

Sabtu, 24 Juli 2021 - 15:54:40 WIB
Hati-hati Ancaman Kejahatan Siber Terhadap Anak-anak Di Masa Pandemi Covid-19
Diposting oleh : Administrator
Kategori: Berita Nasional - Dibaca: 101 kali

Aktivitas internet akibat pembelajaran dari rumah semakin meningkat dilakukan anak-anak sejak usia dini. Ada risiko tinggi di dalamnya. Oleh karena itu, orang tua dan anak harus bekerja sama agar dapat bertanggung jawab memilih dan memilah informasi yang layak.

Hal tersebut disampaikan Jumeri, S.T.P., M.Si., Dirjen PAUD, Dikdas dan Dikmen Kemendikbudristek saat memberikan sambutan di webinar Digital Society, pada Kamis, 22 Juli 2021. Webinar bertajuk “Keamanan Anak di Dunia Digital Selama Belajar dari Rumah” ini merupakan kerjasama dengan Kemkominfo dan Siberkreasi.

“Sebanyak 30% penduduk Indonesia adalah anak-anak. Mereka termasuk generasi digital native, generasi yang lahir ketika teknologi sudah berkembang melalui penggunaan gawai dan internet sebagai sarana belajar maupun bermain. Jadi anak-anak di era saat ini sudah terbiasa mengakses internet. Hal ini harus menjadi perhatian kita semua agar anak-anak tidak tersesat dalam penggunaan internet,” ujar Jumeri.

Ia juga mengatakan, internet bagaikan pisau bermata dua. Pesatnya perkembangan teknologi informasi selain memberikan dampak positif juga memberikan berbagai dampak negatif. Di antaranya maraknya berita hoax, akses pornografi, cyberbullying, mudahnya berinteraksi dengan orang asing dan permasalahan keamanan informasi.

“Pesatnya perkembangan informasi dan teknologi mengakibatkan informasi dapat diakses dengan mudah dan cepat. Pada akhirnya banyak konten yang tidak bermanfaat diserap anak,” tuturnya.

Menurut Jumeri, Indonesia merupakan negara dengan pengguna media sosial tertinggi di dunia. Oleh karenanya, perlu dibangun kesadaran diri untuk memilah informasi yang dapat diambil dan diakses. Menurutnya, kejahatan siber dapat terjadi pada siapa saja, di mana saja dan kapan saja. Kejahatannya disebut tidak mengenal waktu dan usia.

“Dengan adanya program belajar dari rumah, maka peran orang tua sangat penting dalam pengawasan dan pendampingan pada anak,” pungkasnya.

Nur Fitriana, M.A., Pengembang Teknologi Pembelajaran Ahli Muda, Direktorat Sekolah Dasar, Kemendikbudristek, juga menyampaikan hal yang sama. Menurutnya, guru harus bijak dan berhati-hati dalam memanfaatkan platform digital. Ada kekhawatiran masih banyak yang mematahkan kepercayaan diri anak. Misalnya, karya yang sudah dibuat peserta didik dengan baik tapi masih menjadi bahan tertawaan.

“Gambar yang mungkin lucu hasil dari anak didiknya justru menjadi bahan tertawaan dan ejekan. Sepertinya sepele. Tapi ini akan memberikan dampak bagi psikologis anak,” ujar Nur Fitriana.

Nur Fitriana menyebut, ketika belajar secara online, guru harus selalu memberikan respons dan apresiasi terhadap anak. Itu lantaran tidak semua anak memiliki kepercayaan diri dan kemandirian. Utamanya di dunia digital, di mana anak belum banyak memahami terkait digital etik, digital skill dan digital culture.

“Oleh karenanya guru harus mengizinkan peserta didiknya didampingi orang tua. Kita harus ingat pendidikan itu adalah kolaborasi orang tua, murid dan juga guru,” kata Nur Fitriana.

Sementara itu, untuk mencegah anak mengakses situs-situs yang tidak pantas selama belajar online, Kemendikbudristek pun memberikan fasilitas seperti rumah belajar. Situs ini memberikan pelayanan bagi peserta didik, orang tua maupun guru.

Melalui Rumah Belajar, siswa dapat mengakses sumber-sumber belajar yang aman serta efektif dan juga gratis. Selain itu,  Kemendikbud juga membuat aplikasi Setara Daring untuk memfasilitasi para peserta didik yang sedang belajar di pendidikan kesetaraan paket A, B ataupun C.

“Ini juga bisa diunduh gratis. Sumbernya dari sumber-sumber yang beragam dan yang sudah direvisi para ahli. Semua bisa diakses menggunakan handphone maupun aplikasi lainnya di manapun dan kapanpun,” tuturnya.

Selain itu, kata Nur Fitriana, Kemendikbudristek juga memberikan bantuan kuota internet kepada murid, guru, dosen dan mahasiswa. Kemendikbud juga memberikan batasan konten apa saja yang bisa mereka akses. Sedangkan konten yang tidak pantas sudah dilakukan pemblokiran. Ini merupakan hasil kerjasama Kemendikbudristek dan Kominfo.

“Konten-konten yang dirasa tidak bermanfaat sudah diblokir. Jadi kuota tersebut benar-benar akan dimanfaatkan optimal untuk belajar. Kuota digunakan untuk mengakses sumber-sumber belajar,” imbuhnya.

Dalam kesempatan yang sama, Margaret Aliyatul Maimunah, Komisioner Bidang Pornografi dan Cyber Crime KPAI menyampaikan, anak akan rentan berhadapan dengan konten negatif. Itu terjadi saat anak masuk ke dunia internet. Konten negatif itu di antaranya yang bermuatan kekerasan berlebihan, perilaku menyimpang, perjudian atau konten yhang mendorong anak berperilaku negatif.

Selain itu, anak juga rentan mengalami kejahatan siber seperti kekerasan seksual online, sexting, sextortion, prostitusi online dan lain-lain.

“Kejahatan dunia maya ini tidak hanya memosisikan anak sebagai korban. Menurut data yang masuk ke KPI, sebagian anak juga menjadi pelaku kejahatan dunia maya,” tuturnya.

Peran KPAI dalam melindungi anak dari bahaya pornografi dan kejahatan siber, lanjut Margaret, dilakukan melalui undang-undang perlindungan anak di pasal 76. Pertama, KPI bisa memberikan masukan kepada pemerintah atau kepada pihak-pihak terkait berupa rekomendasi kebijakan pada beberapa isu yang berkaitan dengan anak.

Kedua, KPAI juga mengumpulkan data dan info kasus-kasus melalui survei, kemudian melaporkan adanya dugaan kasus pornografi dan kejahatan siber.

“Dan yang terakhir menerima pengaduan kasus-kasus pornografi dan kejahatan siber, lalu merujuk anak yang menjadi korban kepada lembaga terkait untuk dilakukan penanganan dengan cepat dan tepat,” kata Margaret.

Selain itu, KPAI juga membuat penyedia platform perlindungan anak di dunia siber mengikuti regulasi. Itu dilakukan agar Indonesia memiliki sistem yang memberikan perlindungan anak di dunia siber.

KPAI juga disebut melakukan pengawasan konten-konten di dunia sibar. KPAI juga melakukan tindak lanjut kasus penanganan korban atau pelaku, seperti melakukan pembinaan, pendampingan psikososial pada saat pengobatan hingga pemulihan.

“Pemulihan sosial dan pemberian pendampingan perlindungan pada setiap tingkat pemeriksaan, penyidikan sampai di sidang pengadilan,” tutupnya.


Referensi : Klik



0 Komentar :



Isi Komentar :
Nama :
Website :
Komentar
 
 (Masukkan 6 kode diatas)

 


Langganan RSS





/ /


Oktober, 2021
MSSR KJS
     12
3456789
10111213141516
1718192021 2223
24252627282930
31      





10104489

Pengunjung hari ini : 2625
Total pengunjung : 698508

Hits hari ini : 28187
Total Hits : 10104487

Pengunjung Online: 175





Apa Browser Favorit Anda?

Internet Explorer
Mozilla Firefox
Google Chrome
Opera

Lihat Hasil Poling







Nama :
Website :
Pesan